Rabu, 28 Mei 2014

comment teknik observasi dan teknik wawancara part II

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
Bentuk wawancara
Bentuk-bentuk wawancara antara lain:
1.     Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
2.     Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
3.     Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
4.     Wawancara pribadi.
5.     Wawancara dengan banyak orang.
6.     Wawancara dadakan / mendesak.
7.     Wawancara kelompok dimana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya.
Jenis-Jenis wawancara
Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
·         Wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.
·         Wawancara terpimpin
Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.
·         Wawancara bebas terpimpin
Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.
Sikap-Sikap yang Harus Dimiliki Pewawancara
Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:
·         Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden, baik yang menyenangkan atau tidak.
·         Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si responden.
·         Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
·         Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.

Elemen Penting Wawancara
Berikut ini adalah elemen-elemen penting wawancara yang dijelaskan di dalam buku Interviu Prinsip dan Praktik (Stewart & Cash, 2012, p. 1).
·         Interaktif
Wawancara adalah interaktif, karena adanya pertukaran atau pembagian, sebuah peran, tanggung jawab, perasaan, kepercayaan, motif, dan informasi. Jika seseorang berbicara terus menerus dan orang lain mendengarkan, maka hal tersebut adalah sebuah pidato, bukan wawancara.
·         Proses
Sebuah proses adalah interaksi beragam variabel yang dinamis, terus-menerus, dalam tingkatan sistem atau struktur. Dalam berinteraksi, semua pihak memberikan energi yang berkeinginan untuk mencapai sebuah tujuan. Interaksi
komunikasi tidak bersifat statis. Peranan berganti, ada pertukaran informasi, penyampaian perasaan dan motif memproduksi reaksi dan mengacu pada area baru yang tak terduga
l  Parties
Dalam komunikasi, wawancara merupakan suatu bentuk komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam wawancara pihak-pihak yang diwawancarai dan yang mewawancarai terlibat dalam proses kontak dan pertukaran informasi. Pihak yang diwawancarai adalah orang yang dari padanya digali informasi. Pihak yang mewawancarai adalah orang yang ingin mendapatkan informasi. Selama wawancara, pihak yang diwawancarai dan mewawancarai terlibat percakapan dengan saling berbicara, mendengar, dan menjawab. Kontak antara orang yang diwawancarai dapat langsung berhadapan muka atau jarak jauh seperti dalam acara wawancara jarak jauh melalui TV.
Pembicaraan dalam wawancara mempunyai tujuan yang lebih jauh daripada percakapan biasa karena mempunyai makna yang melebihi maksud percakapan biasa. Karena itu, pembicaraan mengikuti struktur tertentu. Pembicaraan itu bolak-balik antara orang yang mewawancarai dan yang iwawancarai, pertanyaan diajukan dan dijawab secara bergantian dengan maksud menggali topik yang disepakati untuk dibahas guna mencapai tujuan yang direncanakan untuk wawancara itu.
l  Purpose
Tujuan wawancara adalah:1) Untuk memperoleh informasi guna menjelaskan suatu situasi dankondisi tertentu.2) Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah.3) Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orangtertentu.
l  questions

1. Klarifikasi Pertanyaan dari Interviewer

Banyak dari kita terkadang merasa takut untuk mengklarifikasi pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara atau interviewer. Hal ini terjadi karena kita khawatir bahwa pewawancara akan berpikir kamu tidak memperhatikan pada pertanyaan yang mereka ajukan. Padahal dengan mengklarifikasi pertanyaan, tujuannya adalah untuk memperjelas pertanyaan tersebut. Tentunya, diharapkan kamu tidak salah dalam menjawabnya. Selain itu, hal ini juga dapat membantu kamu lebih rilex dalam memberikan respon yang relevan dan bijak.

2. Berpikir Keras

Salah satu kesalahan yang banyak dialami pada saat wawancara adalah mengulur-ulur waktu ketika kamu tidak memiliki jawaban yang pas. Bahkan kadang secara spontan kita menjawab dengan kalimat “Saya tidak tahu.” Meski kamu tidak memiliki jawaban yang tepat dengan pertanyaan yang diajukan, ada baiknya coba untuk berpikir keras beberapa menit. Ini adalah taktik yang baik untuk mensiasati masalah ini.

3. Komunikasi NonVerbal

Pada saat kamu pergi ke sebuah wawancara, apakah kamu menemukan diri kamu dalam keadaan gelisah dan menatap lantai atau meja ketika menjawab pertanyaan? Jika benar demikian, kamu mungkin akan melewatkan kesempatan yang ada di depan kamu.
Myers menganjurkan agar berlatih melakukan wawancara dengan seorang teman atau belajar menjawab pertanyaan di depan cermin. Ini bertujuan untuk melatih kontak mata, bahasa tubuh dan indikator-bahasa lain yang akan mempengaruhi penilaian tentang kamu. Jangan lupa untuk berjabat tangan erat baik sebelum dan sesudah wawancara. Ingat, jangan menjauh atau menghindar dari kontak mata selama wawancara.

4. Pahami Resume Kamu Sendiri

Mengetahui resume kamu sendiri secara luar dalam adalah bagian sangat penting agar sukses dalam sesi wawancara. Seperti kita tahu bahwa banyak pencari kerja saat ini, menyesuaikan resume mereka agar sesuai dengan perusahaan atau posisi tertentu. Karenanya, pastikan kamu meluangkan waktu untuk memahami resume kamu sendiri. Jangan sampai di resume kamu tertulis A tapi ketika diberi pertanyaan kamu justru menjawab B. Hal ini akan membuktikan bahwa kamu kurang memahami diri kamu sendiri.

Wawancara = interaksi
Dimensi-dimensi kritis dalam hubungan antar pribadi :
1.      similaritas
2.      inklusi / involvement
3.      afeksi / liking
4.      control / dominance
5.      trust

how to behave ?
SOLERs
Ø  S : squarely
Ø  O : open
Ø  L : lean forward
Ø  E : eye contact
Ø  R : relax

Tipe wawancara
1.     Wawancara tradisional Dalam wawancara jenis ini, Anda akan dihadapkan pada beragam pertanyaan yang bersifat ‘luas’ dan harus bisa menjawabnya dengan spesifik. Beberapa contoh pertanyaannya, seperti “Kenapa Anda ingin bekerja di sini?” atau “Coba ceritakan tentang diri Anda”. Cara menguasainya, cukup dengan latihan dan susun jawaban yang ingin Anda sampaikan pada pewawancara. Pertanyaan yang diberikan memang terkesan umum, karena itulah coba cari jawaban yang membuat Anda terlihat menonjol dan berkesan bagi si pewawancara
2.     Wawancara perilakuBiasanya dalam wawancara ini, pewawancara ingin mencari keahlian tertentu dari kandidat yang diwawancara. Pertanyaan yang diberikan seputar “Kenapa Anda ingin bekerja di sini?” atau “Berikan contoh apa yang akan Anda lakukan jika dihadapkan pada situasi berikut...” Cara menguasainya, berikan jawaban berdasarkan pengalaman profesional Anda sebelumnya. Untuk setiap jawaban yang Anda berikan, coba pikirkan seputar situasi, tindakan yang Anda ambil, bagaimana perasaan Anda akan tindakan tersebut, dan apa yang Anda pelajari. Apapun jawaban Anda, yang penting jangan berbohong atau memberikan respon yang terdengar ‘kabur. 3.
3.    .Wawancara kasus Tidak jarang juga pewawancara akan memberikan Anda sebuah kasus atau permasalahan bisnis yang harus dipecahkan. Mereka ingin tahu cara berpikir serta kemampuan Anda menganalisa dan mengatasi permasalahan tersebut. Cara menguasainya, Anda harus paham lebih dulu bahwa tidak ada jawaban yang sempurna. Anda akan dinilai berdasarkan pendekatan solusi yang Anda tawarkan. Karena itu sebelum menjawab, pastikan Anda mengerti sepenuhnya kasus yang diberikan, kemudian pikirkan dengan baik-baik. Jika Anda tidak yakin, silakan tanyakan lagi kepada pewawancara dan dengarkan, karena tidak jarang mereka membocorkan petunjuk melalui pertanyaan yang diberikan.

Komunikasi dalam wawancara :
1.      Setidaknya ada dua pihak
2.      Peran dapat berubah / berpindah
3.      Pendekatan direktif / langsung

Observasi
Observasi dalam diagnostik
Devinisi secara umum obervasi diartikan sebagai kegiatan memperhatikan seseorang atau sesuat, mengikutinya dengan mata, yang dilakukan secara sadar dengan seksama dalam kurun waktu tertentu ( Wahring, 1978; Drosdowski, 1989); memperhatikan, mengontrol, mengendalikan sesuatu untuk tujuan tertentu, yang dilakukan dalam waktu tertentu (Drosdowski, 1989); melihat dan memperhatikan (Hornby, 1984); melihat atau mengindra, terutama melalui perhatian yang seksama (The Merriam-Webster Dictionary, 1977).
Menurut Kaminski (1977), observasi dapat dipahami sebagai semua jenis proses, atau berikutnya hasil, yang melibatkan pembuatan kesimpulan dan pemaknaan data-data dari setiap keadaan atau kejadian pada realitas yang bias dialami, sebagaimana terjadi pada ilmu pengetahuan lain tentang pengalaman (Erfahrungswissenschaften)
Jenis-Jenis observasi
1.      Observasi sebagai proses untuk mendapatkan informasi. Mengacu pada pengertian ini, observasi bias dibagi dalam beberapa fase. Fase awal observasi biasanya lebih merupakan observasi bebas, yang lebih diarahkan untuk memunculkan hipotesis. Fase berikutnya merupakan observasi yang lebih sistematik, lebih ketat dan secara metodik terstandardisasi, yang dilakukan dalam rangka pengujian hipotesis.
2.      Observasi berdasarkan keterlibatan pelaku observasi dalam proses mendapatkan informasi. Dalam pemahaman ini observasi dibedakan antara observadi partisipatif (teilnehmende Beobachtung) dan observasi non-partisipatif (nicht-teilnehmende Beobachtung)
3.      Observasi berdasarkan objek yang diobservasi. Menurut pengolongan ini observasi bias dibedakan antara observasi terhadap dirisendiri, disebut Selbstbeobachtung atau introspeksi; dan observasi terhadap orang lain (Fremdbeobachtung). Dalam kaitanya dengan prilaku (Verhaltensbeobachtung), meliputi juga observasi terhadap bagian dari lingkungan yang relevan dengan kemunculan perilaku tersebut (Kaminski, 1977).
4.      Observasi sebagai proses penerimaan dan pengelolahan informasi. Dalam proses tersebut pelaku observasi bias menjadi objek dari penelitian dan pengembangan teori psikologi.
Patton (1990) mengatakan bahwa data hasil observasi menjadi penting, karena :
  1. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti ada atau terjadi.
  2. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk dipengaruhi berbagai konseptualis (yang ada sebelumnya) tentang topic yang diamati akan berkurang.
  3. Mengingat individu yang telah sepenuhnya terlibat dalam konteks hidupnya seringkali mengalami kesulitan merefleksikan pemikiran mereka tentang pengalamannya, observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh pertisipan atau subjek peneliti sendiri kurang disadari.
  4. Observasi memungkinkan penelitian memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkap oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
  5. Jawaban terhadap pertanyaan akan diwarnai oleh persepsi selektif individu yang diwawancara. Berbeda dengan wawancara, observasi memungkinkan peneliti bergerak lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subjek penelitian atau pihak-pihak lain.
Observasi memungkinkan peneliti merefleksi dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukannya. Impresi dan perasaan pengamat akan menjadi bagian dari data yang pada gilirannya dapat dimafaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
Bagi psikolog, observasi perlu dilakukan karena bebarapa alasan:
  1. Memungkinkan mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologi yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak.
  2. Prosedur testing formal seringkali tidak ditangapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
  3. Observasi dirasakan lebih tidak mengancam dibandingkan cara pengumpulan data yang lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat dibandingkan orang dewasa sebab orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang diobservasi.
Oleh karena itu, tujuan observasi seorang psikolog pada dasarnya adalah:
  1. Untuk keperluan asesmen awal. Dilakukan di luar ruang konseling, misalnya: ruang tunggu, halaman, ruang kelas, ruang bermain.
  2. Untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observe dan menggunakan kelebihan tersebut untuk meningkatkan kelemahan klien.
  3. Untuk merancang rencana individual (individual plan) bagi klien berdasarkan kebutuhan.
  4. Sebagai dasar/titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog tahu kemajuan yang dicapai klien.
  5. Bagi anak-anak. Untuk mengethui perkembangan anak pada tahap tertentu.
  6. Untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan klien.
  7. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua, guru, dokter, dll.
  8. Sebagai informasi status anak/remaja (di sekolah) untuk keperluan bimbingan dan konseling.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar